Pondok Labu, Cilandak — MI Miftahul Umam berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta.
Melalui berbagai kegiatan pembiasaan di sekolah maupun di rumah, peserta didik diajak untuk mengenal dan mempraktikkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dikembangkan melalui enam aspek utama, yaitu nilai spiritual, personal, sosial, intelektual, ekoteologi, dan cinta tanah air.
Keenam aspek tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, berpengetahuan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Menumbuhkan Cinta kepada Allah melalui Pembiasaan Ibadah
Nilai cinta diawali dengan penguatan hubungan spiritual peserta didik melalui pembiasaan ibadah. Siswa MI Miftahul Umam melaksanakan salat Duha bersama guru dan salat Zuhur berjamaah bagi siswa kelas III, IV, V, dan VI di musala sekolah.

Pembiasaan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT, membangun kedisiplinan beribadah, serta membiasakan siswa menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan keagamaan juga diperkuat melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an, baik di sekolah maupun di rumah dengan pendampingan orang tua.
Menumbuhkan Cinta kepada Diri Sendiri melalui Karakter Positif
Kurikulum Berbasis Cinta juga mendorong peserta didik untuk menghargai diri sendiri dengan membangun kebiasaan mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.

Siswa dibiasakan mengikuti kegiatan harian secara teratur, termasuk belajar, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan ibadah. Dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun konsistensi kebiasaan positif tersebut.

Melalui proses ini, siswa diharapkan mampu mengenali tanggung jawabnya, mengembangkan potensi diri, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta berkarakter baik.
Menumbuhkan Cinta kepada Sesama melalui Sikap Santun dan Peduli
Cinta kepada sesama diwujudkan melalui pembiasaan perilaku santun, saling menghargai, dan peduli terhadap orang lain. Salah satu penerapannya adalah penggunaan empat kata ajaib, yaitu permisi, tolong, maaf, dan terima kasih dalam interaksi sehari-hari di kelas.

Selain itu, kegiatan makan bersama di dalam maupun di luar kelas menjadi sarana mempererat kebersamaan antara siswa, guru, dan wali. Kegiatan berbagi rasa syukur juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengungkapkan perasaan, belajar memahami orang lain, serta menumbuhkan empati.

Melalui pembiasaan tersebut, sekolah berupaya membangun lingkungan belajar yang hangat, santun, dan menghargai setiap individu.

Menumbuhkan Cinta terhadap Ilmu melalui Budaya Literasi
Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dikembangkan melalui kegiatan membaca Al-Qur’an bersama guru, pembelajaran literasi menggunakan media suku kata, serta kegiatan belajar yang fleksibel dan menyenangkan.

Teras dan halaman sekolah juga dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, semangat belajar, dan kecintaan peserta didik terhadap proses memperoleh ilmu.
Dengan demikian, kegiatan pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi, tetapi juga pada tumbuhnya semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Menumbuhkan Cinta terhadap Alam melalui Ekoteologi
Kepedulian terhadap alam menjadi bagian penting dalam Kurikulum Berbasis Cinta MI Miftahul Umam. Nilai ini diterapkan melalui kegiatan ekoteologi, yakni membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia.

Siswa dilibatkan dalam kegiatan bank sampah yang mengumpulkan botol plastik, gelas plastik, dan kaleng. Mereka juga belajar memanfaatkan barang bekas menjadi benda yang berguna, seperti meja dari ban bekas, tempat sampah dari galon bekas, hiasan dinding dari wadah telur, serta dekorasi dari daun kering.

Kegiatan tersebut mengajarkan bahwa mencintai alam dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti memilah sampah, menggunakan kembali barang bekas, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Menumbuhkan Cinta Tanah Air untuk Masa Depan Indonesia
Kecintaan terhadap bangsa dan negara ditanamkan melalui kegiatan upacara bendera setiap Senin pagi dan kegiatan Pramuka. Kedua kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kedisiplinan, kebersamaan, semangat kebangsaan, serta rasa bangga terhadap Indonesia.

Penanaman nilai cinta tanah air sejak dini diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kepedulian dan tanggung jawab untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Mewujudkan Pendidikan yang Memanusiakan dan Menguatkan Karakter
Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, MI Miftahul Umam berupaya membangun pengalaman pendidikan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan peserta didik. Cinta diwujudkan melalui ibadah, penghargaan terhadap diri sendiri, kepedulian kepada sesama, semangat mencari ilmu, pelestarian alam, dan kecintaan terhadap tanah air.

Berbagai kegiatan pembiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, akhlak yang baik, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.

Dengan menanamkan nilai-nilai cinta sejak dini, MI Miftahul Umam terus berupaya menjadikan pendidikan sebagai proses menumbuhkan kebaikan, membangun karakter, dan mempersiapkan generasi masa depan yang beriman, berilmu, dan peduli.
